Dapur GOR UNIMUDA Bergemuruh: Ketika Tepung Pisang Binaan HUMANIST Jadi Bintang Utama dan Ludes Diserbu 👁️️ 3

By Operator Website Selasa, 25 Agustus 2026 | 17:26 pm Berita

Dapur GOR UNIMUDA Bergemuruh: Ketika Tepung Pisang Binaan HUMANIST Jadi Bintang Utama dan Ludes Diserbu

SORONG – Semangat kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia tidak hanya dirayakan dengan upacara dan lomba-lomba tradisional di kampus Universitas Pendidikan Muhammadiyah (UNIMUDA) Sorong. Tahun ini, ada yang istimewa. Sejumlah ibu-ibu dari Kelompok Usaha Klain Bangkit turut ambil bagian dalam perayaan 17 Agustus yang digelar di kampus, dengan membawa serta produk unggulan hasil pendampingan Tim PPK Ormawa HUMANIST, yaitu tepung pisang.

Kehadiran para ibu ini menjadi bukti nyata keberhasilan program pemberdayaan yang diinisiasi oleh mahasiswa UNIMUDA Sorong melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Program bertajuk "Zero Waste Pisang Sae" ini sejak awal dirancang untuk mengubah potensi pertanian Kampung Klain menjadi peluang ekonomi yang berkelanjutan.

Dalam acara perayaan HUT RI yang berlangsung meriah di lingkungan Kampus UNIMUDA Sorong, para ibu dari Kelompok Usaha Klain Bangkit tidak hanya menjadi pengunjung. Mereka mendapatkan kesempatan untuk mendemonstrasikan langsung pengolahan tepung pisang menjadi berbagai kreasi kuliner. Tepung pisang yang mereka gunakan merupakan hasil produksi dari program pendampingan, yang diolah dari pisang-pisang berkualitas hasil panen Kelompok Tani Klain Bangkit.

Antusiasme civitas akademika UNIMUDA Sorong sangat tinggi. Banyak yang penasaran dan mencicipi langsung olahan berbahan dasar tepung pisang yang disajikan. Hal ini membuka mata para ibu bahwa produk binaan mereka tidak hanya diminati di pasar tradisional, tetapi juga memiliki tempat di hati kalangan terdidik. “Ini pertama kalinya kami bisa berpartisipasi langsung di acara kampus. Kami sangat bangga karena tepung pisang yang kami bawa diminati banyak orang. Ini membuktikan bahwa hasil kerja kami, dengan bimbingan adik-adik mahasiswa, memang bernilai,” ujar salah satu perwakilan ibu-ibu Kelompok Usaha Klain Bangkit dengan penuh semangat.

Keikutsertaan ini juga menjadi ajang promosi yang efektif. Di sela-sela kegiatan, para ibu memperkenalkan produk tepung pisang dan berbagai olahan turunannya, sekaligus membagikan informasi bahwa produk mereka sudah memiliki kemasan menarik dan sedang dalam proses pengurusan legalitas Nomor Induk Berusaha (NIB) dan Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT). Langkah ini penting agar produk mereka kelak dapat dipasarkan secara lebih luas dan profesional.

Ketua Tim PPK Ormawa HUMANIST, Mohammad Nasrul Ahmad, yang turut hadir mendampingi, menyampaikan rasa syukur dan bangganya. "Kami melihat sendiri bagaimana kepercayaan diri ibu-ibu meningkat. Mereka tidak lagi hanya ibu rumah tangga di kampung, tetapi kini menjadi pelaku usaha yang mandiri dan percaya diri. Keikutsertaan mereka di acara 17-an kampus ini adalah bentuk apresiasi atas kerja keras mereka dan bukti bahwa program pemberdayaan ini membawa dampak nyata," ujarnya.

Ketua Kelompok Tani Klain Bangkit, Hosyo, juga memberikan apresiasi. Menurutnya, kolaborasi dengan mahasiswa UNIMUDA Sorong telah membawa perubahan signifikan bagi kelompoknya. "Sebelumnya kami hanya bisa menjual pisang mentah. Sekarang, dengan pendampingan ini, ibu-ibu bisa menghasilkan tepung pisang yang berkualitas dan bahkan bisa unjuk gigi di acara sekampus ini. Ini adalah kebanggaan bagi kami semua," katanya.

Kepala Kampung Klain, Orpa Felis, yang turut memberikan dukungan penuh terhadap program ini, juga menyambut baik partisipasi warganya. "Saya sangat senang melihat ibu-ibu Kampung Klain bisa tampil di kampus. Ini menunjukkan bahwa potensi desa kita mulai diakui. Kami berharap kerja sama dengan UNIMUDA Sorong terus berlanjut dan membawa lebih banyak kemajuan bagi Kampung Klain," ujarnya.

Partisipasi Ibu-Ibu Kelompok Usaha Klain Bangkit dalam perayaan 17 Agustus di UNIMUDA Sorong bukan sekadar acara seremonial. Ini adalah simbol keberhasilan program pemberdayaan yang menjembatani dunia akademik dengan masyarakat, serta membuktikan bahwa potensi lokal, jika dikelola dengan baik dan didampingi dengan tepat, dapat menjadi kekuatan ekonomi yang nyata dan membanggakan.

By Operator Website Selasa, 25 Agustus 2026 | 17:26 pm

Artikel Terbaru